Selasa, 30 November 2010

Cerpen Sunlie Thomas Alexander Nosfratu


BAYANGAN nosfratu tak pernah dipantulkan oleh cermin. Karena itulah kau berkelit menjauh, ketika Ros, kucing manis itu —demikian kau selalu menggodanya— mencoba merengkuh tubuhmu. Hm, wangi parfumnya me...mang kelewat menggairahkan, nyaris memabukkan seperti aroma anyir darah...
Melangkah ke kain gordin merah tua yang tersibak lebar, dari kaca jendela kau melihat rintik gerimis yang masih berebahan di jalanan muka rumah kontrakan penari berpinggul molek itu semakin tipis, berpendar keperakan oleh cahaya lampu jalan dan satu-dua kendaraan yang sesekali melintas lewat. Sesaat kau termangu. Jalanan tiba-tiba saja terasa begitu asing dan mencemaskan bagimu. Entahlah, kau merasa seolah-olah melihat bayang-bayang neraka jahanam yang mengendap penuh ancaman, dengan lidah-lidah apinya seperti menari-nari girang di tembok bangunan. Kau menggeleng-geleng, mencoba mengusir bayangan pemandangan menakutkan itu dari benakmu. Ketika mendongak, kau menemukan bulan separo yang perlahan menyembur dari balik gumpulan awan. Membuatmu sedikit terperangah oleh suatu perasaan yang sulit dibahasakan. Hm, cukup lama kau menengadah, seakan mencari-cari sesuatu di keluasan langit yang mulai kembali cerah. Bintang-bintang kecil dengan sinarnya yang lembut mulai tampak lagi satu persatu. Ah, mereka yang tak berasal dari masa kini, tapi telah jauh melintasi ruang-waktu, menempuh jarak ribuan tahun cahaya untuk sampai ke matamu. Dari abad-abad silam, melampaui riwayatmu di dunia yang renta ini.
Tentunya kau mafhum, kalau malam akan segera berakhir dan kau harus segera pergi sebelum matahari terbit lagi. Atau sinarnya yang celaka akan menghanguskan tubuhmu jadi tebaran debu. Ah, kesunyian seperti mengunyah hatimu. Seandainya saja kalian bisa bersama sepanjang waktu, batinmu sambil menyeringai kecut. Tapi kau tahu itu mustahil. Bukankah setelah berabad-abad lamanya menanggung kutuk sebagai makhluk celaka yang mengepak keluar serupa kelelawar malang tatkala malam telah sempurna turun, kau cukup paham jika impian itu hanyalah semata-mata impian? Tak bakal ada seorang pun dari kaummu yang bisa melenggang di bawah hangatnya sinar matahari sampai kapan pun. Tidak dengan serum, atau ritual darah di bawah pancang salib hitam...
Oh, nosfratu yang celaka! Masih adakah yang kauharapkan dari kisah asmara, wahai makhluk sial yang selalu bermimpi berjalan di siang bolong? Kau mengusap wajahmu dan berpaling. Ah, kucing manis itu memang begitu memukau. Kini ia duduk merajuk di depan cermin yang tampak bergelombang oleh temaram lampu kamar. Bibirnya yang merah ranum tampak sedikit merengut. Dan rambut panjang legamnya tersibak memperlihatkan sebentuk leher putih jenjang yang begitu menggiurkan.
Kau ingin tertawa, selepas malam-malam yang kalian lewati bersama di kota yang sumpek ini. Ah, kota dagang yang seolah menyimpan kutuk sebagaimana kota-kota lainnya.
***
DUA bulan yang lalu kau mengenal kucing manis itu di sebuah klub malam di pinggiran kota, belum lama berselang setelah kau menginjakkan kaki di kota hibuk yang dibelah oleh sungai besar ini. Kala itu kau merasa begitu penat usai perjalanan jauh. Tak mudah menemukan tempat hiburan yang sesuai selera di kota ini meskipun kau punya banyak uang, kata seorang penjaga malam yang terkantuk-kantuk di simpang lorong dekat penginapanmu. Tapi malam itu, barangkali kau cukup menikmati suasana hingar-bingar penuh sesak di ruangan remang yang sesekali disambar kilatan cahaya aneka warna itu.
Orang-orang berjingkrak seperti kerasukan mengikuti hentakan musik remix. Bahu-bahu terbuka mulus, paha-paha licin mengkilap diterpa kelebatan lampu, dan leher-leher jenjang berkilau oleh peluh. Berkali-kali kau meneguk air liur, berusaha keras menekan hasrat dan rasa hausmu. Ah, aroma parfum bercampur alkohol dan bau keringat memang membuatmu semakin terlena.
Penari berpinggul molek itu ada di sana, berlenggak-lenggok indah di atas panggung bersama kelompok sexy dancers-nya. Kau begitu mengagumi tungkai kakinya yang panjang, terlebih pinggulnya yang sintal terbalut lingerie berwarna transparan. Gerakannya binal bak seekor kucing liar dengan mulut tak henti-hentinya mendesis dan lirikan mata yang begitu tajam seakan sedang mengintai mangsa. Sekilas membuatmu teringat pada Elvira, putri kucing hitam pasangan Count Dracula dalam legenda kuno. Perasaanmu terasa berdebar walau telah lama kau tak punya detak jantung.
Perlahan kau melangkah mendekati panggung. Musik semakin riuh reda. Cahaya-cahaya lampu kini mengalir seperti sungai. Menyulap seluruh ruangan menjadi hijau tosca. Seorang penari lain dari keempat sexy dancers di atas panggung yang semarak itu tampak membuka sebotol minuman. Buih alkohol membuncah ke udara seperti sambutan kemenangan dalam sebuah turnamen balap motor grandprix. Kucing manis itu menyambar botol dan melangkah gemulai ke tepi panggung. Sambil mengerling nakal ia menuangkan cairan merah dari botol ke mulut-mulut clubbers yang berdesakan ke bibir panggung.
Oh, matanya yang binal itu berkerdip tatkala melihatmu. Mata kalian bertatapan di tengah keriuhan serupa dua arus sungai yang bertemu. Tapi kesunyian seolah menggantung di udara yang pengap oleh asap rokok dan luapan keringat. Ia seperti menunggu dengan botol di tangannya, namun kau berhenti sekitar lima langkah dari bibir panggung. Terpana, kaget bercampur heran. Selama beberapa saat kau seolah-olah merasa melihat kekasihmu yang telah mengabu ratusan tahun silam hidup kembali.
Ya, itu dua bulan yang lalu. Dan kota ini belum sesumpek sekarang. Setiap kota yang kau singgahi, entahlah, semakin lama selalu saja kian memuakkan! Itulah sebabnya kau merasa dirimu tak ubahnya seorang pelarian dari sesuatu yang entah. Aha, sudah berapa lama kau resmi menjadi pengelana dari satu kota ke kota lain? Waktu terasa begitu nyeri. Tiba-tiba kau terbayang lagi pada sebuah kota kecil yang menganggu pikiranmu...
***


HM, kota kecil itu kau lihat di televisi menjelang subuh tiga hari yang lalu. Entah dalam sebuah film atau warta berita, kau sudah lupa. Agaknya kau tertidur di sofa ketika sedang mencoba mengingat-ingat di mana persisnya letak kota itu. La...gipula, hanya selintas lewat kota itu muncul di layar televisi. Tapi kau merasa tak asing dengan suasana malam kota kecil tersebut, semua pemandangannya terasa begitu akrab bagimu. Meskipun rasanya ada begitu banyak hal yang telah berubah di kota kecil itu dari yang dapat kau kenang, namun jelas kau mengenali sejumlah bangunannya, persimpangan jalan, juga sebuah patung lelaki berseragam perwira militer yang tampak kusam menyedihkan. Ah, sudah berapa lama? Dua tahun, lima tahun? Atau sudah belasan tahun? Apakah telah ratusan tahun berlalu sejak terakhir kali kau melihatnya? Mungkin saja.
Sia-sia kau meraih segenap ingatanmu. Walau telah berpikir keras, tak juga kau berhasil mengumpulkan lebih banyak kenangan tentang kota kecil itu. Kau merasa kesal dengan penyakit amnesiamu. Apakah kota kecil itu kota kelahiranmu? Atau barangkali sebuah kota di mana kau pernah tinggal selama bertahun-tahun? Bisa jadi kota itu hanyalah sebuah kota yang sempat kau lewati dalam perjalanan malammu. Ada begitu banyak kemungkinan, ada begitu banyak kebenaran.
Tapi entah kenapa, kau tak juga bisa mengenyahkan bayangan kota kecil yang kau lihat di televisi itu dari pikiranmu. Adakah sesuatu yang begitu menarik dari sekilas pemandanganóserupa lanskap dari jendela bus ituóyang sempat kau tangkap di layar kaca sambil menahan kantuk di sofa? Ah, sofa terkutuk! Mungkin lebih baik besok-besok kau tidur di peti jenazah seperti dongeng tentang nenek moyang kaum penghisap darah! Umpatmu dalam hati. Atau, lantaran kota itu memang diam-diam hidup dalam suatu kenangan indah yang telah mengabur di alam bawah sadarmu? Kau jadi semakin kesal.
Sungguh, kau tidak mengerti kenapa tiba-tiba merasa begitu merindukan kota kecil itu. Mendadak kota kecil itu jadi demikian menenteramkan dalam bayanganmu, setelah kota demi kota yang kau jelajahi. Apalagi kota yang gaduh ini, yang pada malam ini terasa lebih sumpek dari biasa. Oh, seandainya kau bisa mengingat sebuah petunjuk kecil saja tentang keberadaan kota kecil itu... Tentunya kau berharap membawa kucing manis itu ke sana. Di mana kalian mungkin bisa berbahagia untuk selama-lamanya seperti pangeran dan puteri dalam cerita anak-anak. Kau menyeringai kecut.
Perlahan kau mulai membayangkan sebuah rumah mungil dengan halaman rumput yang hijau. Ada anak-anak yang berlarian, berteriak-teriak kegirangan di ayunan bawah pohon. Ah, diam-diam kau merasa malu. Setelah sekian waktu lewat, ternyata kau kembali mengangankan kehidupan manusia yang hangat. Sebuah kehidupan yang wajar, tanpa hingar-bingar atau kesenyapan malam yang begitu mengiriskan. Adakah yang salah?
Kota kecil itu barangkali memiliki pantai yang molek dengan pasir putih. Atau sebuah pelabuhan mungil dengan kapal berwarna-warni, orang-orang yang ramah, makanan yang enak. Di mana kau tak usah lagi meringkuk dalam kegelapan di siang hari, yang membuat pemilik kamar sewaanmu kerap menaruh curiga pada pekerjaanmu. Kau tak bisa berhenti berkhayal. Sudah begitu lama kau tidak merasakan hangatnya sinar matahari di kulitmu, sudah begitu lama pula tak pernah menikmati makanan manusia yang wajar. Hm, sejak tubuh Sonia mengabu ratusan yang lalu di tangan para jahanam pemburu vampir, kau telah memutuskan berhenti menghisap darah manusia dan menggantikannya dengan darah binatang. Meskipun setiapkali kau masih suka tergoda melihat leher-leher putih mulus yang kau temui di berbagai tempat dan waktu.
Kau mafhum, semuanya hanya akan seperti mimpi. Dan di saat-saat begini, kau merasa dahagamu akan darah segar seolah tak tertahankan. Membuat gigimu bergemeletukan, sekujur tubuhmu terasa menggigil. Semakin kau berusaha bertahan, rasa dahaga itu semakin sulit dibendung, semakin menyiksamu. Malam memang begitu celaka!
Lantas, kenapa kau tidak menggigit leher jenjang kucing manis itu? Lalu kalian mungkin akan menjelma jadi sepasang makhluk malam yang penuh sukacita.
Ah, selalu saja kau terkenang pada Sonia yang malang.
***

KOTA mungil dalam lukisan kusam yang sudut-sudutnya sudah dimakan ngengat di dinding kamar sewaanmu itu jelas bukanlah kota kecil yang kau saksikan di layar televisi. Kota kecil itu mungkin tak ada lagi kini, entah telah menjelma sebuah met...ropolitan atau justru tinggal puing-puing masa silam. Tapi selama beratus tahun, kau masih saja membawa lukisan kota kecil tersebut ke mana pun kau pergi —seolah-olah dengan itu kau bertekad melawan amnesia.
Ya, di kota kecil itulah kau bertemu dengan Sonia. Kau memang tak pernah menghitung berapa lama sudah pastinya waktu berlalu. Tapi kau tak pernah melupakan tanggal kematianóah, kematian kedua yang abadiógadis yang begitu kau cintai itu, dan setiap hari itu tiba, kau selalu ingat menyalakan sebatang lilin untuk dirinya sembari berusaha mengenyahkan bayang-bayang neraka jahanam yang dengan kejam menyerbu pikiranmu. Ah, bukankah dulu kau pengikut Tuhan yang setia?
Apa salahnya jatuh cinta? Gadis itu begitu cantik, gadis tercantik yang pernah kau lihat. Kerap kau menatap lukisan kusam di dinding itu dengan nanar, memperhatikan rumah-rumah berbata merah dan ruas jalan yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu yang panjang dengan rasa sedih kelewat mendalam. Hanya lukisan kota kecil itulah yang tersisa, selalu menemanimu berkelana atau meringkuk dalam keremangan ruangan.
Mungkin saja penduduk kota kecil dalam lukisan kusamóyang tak seberapa populasinya itu sejak kecil sudah dapat menerka takdir mereka, yang sebagaimana orang tua mereka: besar, bekerja dan kemudian meninggal di kota terpencil itu. Semuanya hanya seperti roda, bersiklus dari generasi ke generasi. Bila tidak membuka toko sourvenir, mereka menjajakan makanan di pinggir jalan atau menjadi pemandu bagi para pelancong. Beberapa di antaranya membuka atau bekerja di penginapan, dan sejumlah gadis muda diam-diam menjadi perempuan penghibur. Tapi kau yang pada mulanya datang sebagai seorang pelancong, tentunya tak pernah dapat meraba takdirmu, tak juga percaya kalau nasib manusia bisa diramalkan lewat bola kristal dan kartu-kartu seperti halnya penduduk kota kecil itu.
Hmm, sampai kau bertemu dengan Sonia, seorang gadis beraksen daerah Selatan yang tiba di kota kecil itu beberapa hari setelah kedatanganmu. Dan segera jatuh hati pada kecantikan, kebeliaan dan kelembutannya. Ah, siapa duga, ia menggigit lehermu pada malam pertama kalian bercinta...
Sejak itu semua memang berubah. Tak ada lagi siang hari, tak ada lagi hangatnya sinar matahari, tak ada lagi bayangan di cermin. Namun kalian lewatkan malam demi malam untuk bercinta, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di kota kecil itu —menjadi teror bagi para penduduk dan pelancong yang sial. Apakah kau menyesal?
”Kau sudah janji untuk bersamaku selamanya kan? Tak akan peduli siapa diriku dan dari mana asalku?” tanya gadis menatapmu dengan sayu.
***
 

YA, tak ada lagi yang tersisa selain kenangan pedih dan lukisan tua kota kecil ituÖ
Kalau saja para jahanam pemburu vampir itu tak pernah datang, mungkin kalian akan senantiasa bersama selamanya. Hingga tak seorang pun dari penduduk kota kecil itu yang tersisa dan tak ada lagi pelancong yang bertandang. Oh, sampai lonceng pengadilan terakhir berdentang!
Balik ke waktu sekarang, kau melihat Ros masih duduk di depan cermin meja riasnya. Di depan rumah, gerimis sudah reda. Tapi jalanan masih saja terasa begitu asing dan mencemaskan. Ingin sekali kau mendekap kucing manis itu dan menceritakan segalanya tentang dirimu kepadanya. Ya, segalanya! Namun kau hanya berdiri saja di ambang jendela, membiarkan malam terus beranjak. Kesedihan seolah mengental dalam kamar yang temaram ini.
Kemudian entahlah, kau merasa wajah cantik yang menghadap cermin lonjong itu semakin mirip dengan Sonia. Ah, serupa itukah ekspresi wajah vampir jelita tersebut pada malam terakhirnya ketika merajuk memintamu keluar mencari seorang bayi merah? Seharusnya kau tidak pergi, seharusnya kau tidak meladeni dahaga laknatnya malam itu. Bukankah alam kegelapan sebetulnya telah mengirimkan isyarat-pertanda berupa ribuan kelelawar yang tiba-tiba memenuhi langit sejak senja jatuh? Yang membuat para penduduk kota kecil itu begitu tercengang sekaligus ketakutan.
Tatkala kau kembali menjelang subuh, kau hanya temukan rumah tempat kalian berdiam telah tinggal puing-puing membara. Dan tubuhnya... Tubuhnya tanpa sisa. Selain bayangan sosok hangus dan liontin emasnya yang putus di atas hamparan rumput di halaman. Ratusan tahun telah berlalu, tapi kau merasa kedua matamu kembali berkaca-kaca. Ai, kau jadi menyesal telah menguburkan liontinnya di sebuah bukit sebelah timur kota kecil itu sebagai makam bagi Sonia.
Kau melirik Ros, kucing manis itu, dan cermin di hadapannya yang takkan pernah memantulkan bayanganmu, silih berganti dengan mata nanar.
”Aku ingin kau menikahiku...,” terngiang lagi olehmu kata-katanya yang memeras. Kata-kata yang entah telah berapa kali dibisikannya dalam dua minggu terakhir ini. Kau semakin bimbang, apakah akan memberikan jawaban padanya sekarang atau segera pergi meninggalkannya sebelum matahari terbit. Dari warna langit yang tampak di luar jendela, kau tahu tak lama lagi fajar akan menyingsing. Ah, bayangan bulan telah memudar.
Tentunya kau takkan hijrah dari kota pengap ini untuk melanjutkan jalan hidupmu tanpa membawanya bukan? (35)

Palembang-Yogyakarta, Juli-Oktober 2008
/cerita buat Hati Muhasabah Sang Ikhwan.

0 komentar:

 

..:::Hati Pencari Cinta ILahi:::.. Blogger Templates Designed by Buat Sendiri | Karya Tangan Terampil. Hati Muhasabah Sang Ikhwan Lahir: 06-01-92. Featured on Karanganyar. © 2011